Kenapa

Karena saya sudah kehilangan akses ke blog yang lama Maka saya menggantinya dengan yang ini.
Semua yang ada disana akan saya pindahkan kesini dengan sedikit pembaharuan

Kamis, 03 November 2016

Menikahlah Denganku Nanti



Sepertinya langit sore ini tidak bersahabat. Awan-awan kelabu mulai bergumpal dan berkumpul. Sedangkan aku, masih berada di tengah-tengah ramainya jalan raya. Aku masih berhenti menunggu lampu berwarna hijau. Saat itu aku masih sempat berdoa semoga butiran-butiran hujan tidak akan segera turun. Perjalanku masih cukup panjang. Aku masih melihat langit saat angka pada lampu lalu lintas itu berubah menjadi nol. Kebetulan aku berada paling depan jadi bisa langsung kupacu kendaraanku. Meskipun ada jas hujan di jok motorku tetap saja aku gak mau harus ngambil jalan memutar karena banjir.
Kecepatan ku belum juga tembus enam puluh meter perjam aku sudah menurunkannya lagi. Tidak jauh dari situ aku melihat seorang yang sepertinya kukenal di halte bus. Halte bus itu cukup ramai sampai membuatnya berdiri. Entah karena apa kuhampiri halte itu. Dia ternyata Wahyuni teman sekelasku. Aku cukup dekat dengannya. Sebagai lelaki yang tidak akan membarkan seorang wanita yang kukenal kesusahan. Aku langsung menawarkan diri untuk mengantarnya. Cukup lama dia berfikir sebelum mengiyakan ajakanku.
Dengan kecepatan sedang aku sedikit meliuk-liuk membelah ribuan kendaraan di kota yang sudah mulai cukup padat ini. Sepanjang perjalanan aku tetap berdoa di dalam hati agar hujan tidak jadi turun. Di bawah tempat dudukku hanya terdapat satu mantel untuk satu orang. Sebenarnya inilah pertama kali ada seorang perempuan selain keluargaku yang duduk di belakang. Jadi, aku gak pernah peduli dengan mereka.
Di tengah kemacetan dan riuhnya suara kendaraan. Butiran-butiran air mata langit mulai turun perlahan. Padahal masih ada setengah perjalanan lagi yang harus kami tempuh. Aku langsung menepikan kendaraanku sebelum hujan bertambah lebat.
Kubuka jok motorku dan ku ambil satu setel jas hujan berwarna coklat tua dengan garis putih di tengahnya. Mungkin karena naluri kelelakianku jas hujan itu kuberikan padanya. Awalnya dia menolaknya dengan alasan aku yang berada di depan. Kujelaskan panjang kali lebar kali tinggi kalau aku tahan dengan terhadap cuaca dingin. Dia hanya diam namun menerima jas hujan itu. Padahal sebenarnya aku gak tahan dingin. Namun daripada perempuan pertama yang duduk di bangku belakangku kebasahan mending aku mati kedinginan. Kami melanjutkan perjalanan tanpa banyak bicara.
***
Aku Fandi yang sering dipanggil Panjul. Mahasiswa jurusan Ekonomi yang telah memasuki semester akhir. Jujur aku masih jomblo dan kemungkinan besar tidak akan memiliki PW (pendamping wisuda).
Kejadian itu terjadi sekitar beberapa bulan lalu saat aku baru pulang dari rumah Budi sahabatku. Sejak kejadian itu aku tidak lagi melihat Wahyuni sebagai teman biasa. Bagiku dia adalah bidadari. Bidadari yang telah mengisi relung hatiku yang telah lama kosong, gelap dan berdebu. Dia adalah salah satu teman yang seangkatan denganku di salah satu universitas negeri di kotaku. Sejak kejadian itu aku mearasa dia berubah. Tidak seperti biasanya. Sering kali aku mendapatinya sedang mencuri-curi pandang terhadapku. Karena tatapannya itu hatiku selalu bergetar tak karuan. Senyum yang dilukiskan dibibirnya ketika tatapan kami bertemu sedikit demi sedikit telah menghilangkan debu-debu yang sudah lama berserakan dihatiku.
Baru belakangan ini aku merasakan sesuatu yang aneh. Entah ini disebut apa atau aku yang pura-pura tidak tau. Setiap kali aku melihatnya pergi, menghilang dari pengelihatanku. Ada sesikit rasa yang sepertinya hilang. Sesuatu yang aku sendiri tidak mau memastikannya. Disela-sela perasaan itu ada sebuah perasaan yang menguat. Perasaan untuk memilikinya. Aku menyadari dari survey-survey yang telah kulakukan. Dia tidak diperbolehkan untuk menjalin hubungan lebih dari pertemanan oleh orang tuanya. Perasaan yang menguat itupun ternyata bukan sekedar berpacaran melainkan yang lebih mulia dari itu.
Sepanjang malam aku berfikir keras tentang semua itu. Aku memilih dan memilah setiap cara yang terbentuk dipikiranku. Bagaimana untuk menyampaikan betapa besar dan tulusnya perasaan ini padanya. Disaat aku hampir putus asa dan menyerah ide itu tiba-tiba saja muncul seperti petir yang menyambar.
***
Aku baru saja dari toko buku. Sebuah novel karangan seorang penulis yang lagi terkenal berhasil menggodaku untuk membelinya. Aku sangat ingin membacanya dan memanjakan imajinasiku. Untuk itu aku kembali ke kampusku. Sesampainya aku dikampus kulihat kelas tempat kami belajar tadi masih masih belum ada tanda-tanda dosen yang mengajar. Kulewati pintu kelas itu dan tanpa sengaja mataku bertatap langsung dengan matanya. Bening matanya dan pupil yang berwarna coklat itu sangat meneduhkan. Aku terdiam untuk sesaat. Lalu senyuman indahnya melebar menyapaku. Sungguh kuingin mengabadikan momen itu selamanya. Kubalas senyumanya dengan senyuman yang terindah yang mampu kuberikan.  
Aku menduduki bangku pojokan yang sunyi lalu mulai membacanya. Sama sekali aku tidak bisa konsentrasi membacanya. Beberapa kali aku menangkap matanya sedang memerhatikanku. Secepat aku memandangnya secepat itu juga dia memalingkan wajahnya. Satu pertanyaan besarku. “Apa dia memiliki perasaan yang lebih padaku?” Atau “apakah dia juga ingin untuk kumiliki”. Aku harus mengungkapkan perasaan ini secepatnya sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Kucoba untuk terus membaca novel yang baru kubeli walau dengan konsentrasi yang terpecah. Samar-samar kudengar percakapannya dengan teman-temannya. Ternyata teman-temannya akan pergi dan meninggalkannya sendiri. Benar, tidak berapa lama teman-temannya meninggalkannya sendiri. Kututup novel yang baru kubeli. Kumasukkan kedalam tas lalu aku menghampirinya.
“Hai” sapaku setika sampai di dekatnya.
“Eh Jul. Ada ap?” dia kelihatan terkejut.
“Ke pantai yuk” kataku dengan pelan. Aku masih takut perkataanku didengar orang lain.
“Ha... Apa jul?” tanyanya. Sepertinya suaraku terlalu pelan.
“Kita jalan-jalan ke pantai yuk Yun” kataku dengan sedikit keras.
“Ngapain Jul? Siapa aj?” Dia sedikit terkejut dan menggeser sedikit posisi duduknya menghadapku.
“Berdua aj. Ada hal yang mau ku sampekan” Mungkin kalau dia sedikit fokus pada jantungku dia akan mendengar detakannya.
“emm..” kelihatannya dia memikirkan sesuatu.
“Kok tiba-tiba gini Jul” tanyanya. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanya. Aku tidak mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti itu. Keningku sedikit berkerut. Aku berharap dia tak menyadarinya.
“Soalnya menyangkut hati. Aku mau curhat dikit.” Kata-kata itu terucap begitu saja.
“kapan?” tanyanya singkat.
Sebenarnya aku belum merencanakan detail kapan kapan perginya. Namun dengan memikirkannya hanya sepersekian detik aku mantap menjawab “Besok. Kamu gak ada kuliah kan?”
“Oh ia, kebetulan aku bebas besok.” jawabnya.
“Ku jemput di rumah pukul lima sore ya “
“Ia. Jangan sampai telat ya.”
“Insya Allah, aku tidak akan telat. Oh ya aku pulang duluan ya. Baru inget kalau ada urusan yang harus ku selesaikan” sebenarnya urusannya ya tentang hal ini.
“Hm oke. Hati-hati jul”
“sep” kataku sambil mengacungkan jempolku. Aku berbalik dan keluar dari kelas itu. Sepertinya jutaan bunga mawar sedang mekar di hatiku. Aku merasa bahagia akan keindahan bunganya namun takut akan durinya.
***
Keesokan harinya dengan kecepatan sedang aku melaju dibawah terik matahari. Perasaan gugup masih menghantuiku selama perjalanan. Tak lupa ku sempatkan membeli persiapan akhir untuk kesuksesan rencanaku dan kumasukkan ke tas sandang yang kubawa memang untuk itu. Pukul lima kurang aku sampai di rumahnya. Aku memesuki pelataran rumanya masih sama seperti terkhir kali aku dan teman-temanku berkunjung. Aku langsung menuju pintu depan dan mengetuknya.
Wahyuni membukakan pintu untukku. Seketika itu aku membeku. Dia begitu manis dengan senyum mengembang di bibirnya. Baju lengan panjang berwana biru langit dilengkapi dengan kerudung berwarna sama melekat dibadannya. Ditambah dengan rok hitam dan sepatu kets berwarna biru melengkapi keanggunanya sore itu. Setelah mempersilahkanku duduk dia kedalam. Tak lama dia muncul diikuti oleh kedua orang tuanya. Aku langsung mengenalkan diri dengan bersalaman. Setelah sedikit basa basi aku ijin membawa anak gadisnya. Ternyata kedua orangtuanya sangat baik padaku.
Hanya butuh waktu setengah jam bagi kami untuk sampai di pantai. Aku mencari tempat duduk yang sedikit menjorok kepantai. Aku dan dia bercerita tentang apa aja. Humor-humor cerita-cerita semua membuat waktu bergerak terlalu cepat. Pengunjung yang tadinya ramai kini telah banyak meninggalkan pantai. Langit mulai menggelap. Semburat jingga memenuhi langit. Sungguh suasanya yang sangat romantis tepat seperti rencanaku.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan mengambil tas sandangku. Dia yang menyadari tingkahku juga bersiap-siap untuk pulang. Dalam diam aku berjalan ke arah laut sampa air laut membasahi kakiku. Dia tampak heran. Segera saja kulambaikan tanganku mengajaknya kedekatku.
“Yun coba pejamkan matamu dan rasakan hembusan angin yang datang dari laut. Pasti kamu akan rasakan ketenangan yang belum pernah lu rasain sebelumnya” kataku setelah dia sampai di sampingku.
Tanpa ragu dia menutup matanya yang indah itu. Perlahan, setenang mungkin aku berjalan kedepannya. Dan aku berlutut tepat dihadapannya. Aku ambil mawar merah yang telah ku siapkan di dalam tasku.
“Yun” panggilku.
“Hm” jawabnya masih memejamkan mata.
“Aku mencintaimu” ucapku lirih.
Dia langsung membuka matanya. Tatapannya menembus mataku langsung menuju jantungku. Seakan aliran darahku berhenti saat itu juga. Dia masih terdiam. Raut keterkejutan masih membekas disana. Aku yang tidak tau mau berbuat apa hanya ikut terdiam. Setelah hanya suara ombak yang terdengar.
“Maaf ya Jul bukannya aku gak mau. Tapi orang tuaku gak mengizinkan ku untuk itu jul. Maa....” dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Butiran air mata menetes dari matanya yang bening berjalan tanpa henti melewati pipinya. Aku tau akan hal itu. Aku tau dari cerita-ceritanya selama aku berteman dengannya. Tapi bukan itu yang sebenarnya aku inginkan.
“Menikahlah denganku.” Kataku lirih. Masih dalam posisi berlutut dan tertunduk. Aku masih belum berani menatapnya.
“Ha…” dia terkejut dengan apa yang kukatakan. Airmata yang tadi menetes perlahan berhenti.
“Memang bukan sekarang. Aku berjanji suatu hari nanti aku pasti akan membawa orang tuaku untuk melamarmu. Aku hanya ingin meyakinkanmu saat ini. Aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku.” Sambungku tanpa jeda.
“........” dia hanya terdiam. Air mata itu masih terlihat mengalir.
Aku masih bingung kuputuskan untuk bertanya lagi “Bagimana maukah kamu menerimaku?”.
Cukup lama dia terdiam memandang ke arahku. Sampai dia mengsap air matanya lalu berkata ” Emmm gimana ya...”.
“maaf jul aku...” sambungnya setelah memberikan sedikit jeda.
Aku menundukkan kepalaku mendengar ucapanya.
“Panjul. Eh.. Fandiiii aku belum selesai ngomong. Masa kamu udah putus asa gitu. Maksudku aku ga bisa menolaknya.” katanya sambil merebut bunga yang kuberikan.
Aku terbengong melihat tindakannya. Ternyata dia tidak menolakku. Aku bahagia sekali mendengarnya. Sepertinya itu adalah kata-kata terindah yang pernah ku dengar.
“Jadi hubungan kita sekarang apa Fan? Trus aku harus sampai kapan menunggumu?” sambungnya.
O ia Aku lupa. Akukan belum memikirkan sampai kesitu. Berpikir kalau diterima aja gak berani. Tapi aku benar-benar bersungguh-sungguh untuk memilikinya selamanya. Tanpa banyak mikir aku menjawabnya “Kalau hubungan kita ya tetep temenan. Tapi izinkan aku untuk mengenalmu lebih dekat. Kalau waktunya insya Allah dua tahun setelah aku selesai kuliah. Bagaimana Yun bisa kan kamu nunggu aku selama itu?” kataku dengan penuh keyakinan.
“Aku akan menunggumu selama yang kau inginkan Fandi. Aku juga mencintaimu”
Aku sangat bahagia mendengarnya. Ingin rasanya aku terbang langsung kelangit saat itu juga. Matahari telah sampai di singgasananya. Hanya cahaya jingga yang tersisa. Suara angin terdengar semangkin keras. Aku dan Wahyuni meninggalkan pantai. Hanya aku dan Tuhan yang tahu sebahagia apa aku saat ini. Dia, Wahyuni adalah pendamping hidupku kelak. Wanita yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.



TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar