Sepertinya
langit sore ini tidak bersahabat. Awan-awan kelabu mulai bergumpal dan
berkumpul. Sedangkan aku, masih berada di tengah-tengah ramainya jalan raya. Aku
masih berhenti menunggu lampu berwarna hijau. Saat itu aku masih sempat berdoa semoga
butiran-butiran hujan tidak akan segera turun. Perjalanku masih cukup panjang. Aku
masih melihat langit saat angka pada lampu lalu lintas itu berubah menjadi nol.
Kebetulan aku berada paling depan jadi bisa langsung kupacu kendaraanku.
Meskipun ada jas hujan di jok motorku tetap saja aku gak mau harus ngambil
jalan memutar karena banjir.
Kecepatan
ku belum juga tembus enam puluh meter perjam aku sudah menurunkannya lagi.
Tidak jauh dari situ aku melihat seorang yang sepertinya kukenal di halte bus.
Halte bus itu cukup ramai sampai membuatnya berdiri. Entah karena apa kuhampiri
halte itu. Dia ternyata Wahyuni teman sekelasku. Aku cukup dekat dengannya. Sebagai
lelaki yang tidak akan membarkan seorang wanita yang kukenal kesusahan. Aku
langsung menawarkan diri untuk mengantarnya. Cukup lama dia berfikir sebelum
mengiyakan ajakanku.
Dengan
kecepatan sedang aku sedikit meliuk-liuk membelah ribuan kendaraan di kota yang
sudah mulai cukup padat ini. Sepanjang perjalanan aku tetap berdoa di dalam
hati agar hujan tidak jadi turun. Di bawah tempat dudukku hanya terdapat satu
mantel untuk satu orang. Sebenarnya inilah pertama kali ada seorang perempuan
selain keluargaku yang duduk di belakang. Jadi, aku gak pernah peduli dengan
mereka.
Di
tengah kemacetan dan riuhnya suara kendaraan. Butiran-butiran air mata langit
mulai turun perlahan. Padahal masih ada setengah perjalanan lagi yang harus
kami tempuh. Aku langsung menepikan kendaraanku sebelum hujan bertambah lebat.
Kubuka
jok motorku dan ku ambil satu setel jas hujan berwarna coklat tua dengan garis
putih di tengahnya. Mungkin karena naluri kelelakianku jas hujan itu kuberikan
padanya. Awalnya dia menolaknya dengan alasan aku yang berada di depan. Kujelaskan
panjang kali lebar kali tinggi kalau aku tahan dengan terhadap cuaca dingin. Dia
hanya diam namun menerima jas hujan itu. Padahal sebenarnya aku gak tahan
dingin. Namun daripada perempuan pertama yang duduk di bangku belakangku
kebasahan mending aku mati kedinginan. Kami melanjutkan perjalanan tanpa banyak
bicara.
***
Aku
Fandi yang sering dipanggil Panjul. Mahasiswa jurusan Ekonomi yang telah
memasuki semester akhir. Jujur aku masih jomblo dan kemungkinan besar tidak akan
memiliki PW (pendamping wisuda).
Kejadian
itu terjadi sekitar beberapa bulan lalu saat aku baru pulang dari rumah Budi
sahabatku. Sejak kejadian itu aku tidak lagi melihat Wahyuni sebagai teman
biasa. Bagiku dia adalah bidadari. Bidadari yang telah mengisi relung hatiku
yang telah lama kosong, gelap dan berdebu. Dia adalah salah satu teman yang
seangkatan denganku di salah satu universitas negeri di kotaku. Sejak kejadian
itu aku mearasa dia berubah. Tidak seperti biasanya. Sering kali aku mendapatinya
sedang mencuri-curi pandang terhadapku. Karena tatapannya itu hatiku selalu
bergetar tak karuan. Senyum yang dilukiskan dibibirnya ketika tatapan kami
bertemu sedikit demi sedikit telah menghilangkan debu-debu yang sudah lama berserakan
dihatiku.
Baru
belakangan ini aku merasakan sesuatu yang aneh. Entah ini disebut apa atau aku
yang pura-pura tidak tau. Setiap kali aku melihatnya pergi, menghilang dari
pengelihatanku. Ada sesikit rasa yang sepertinya hilang. Sesuatu yang aku
sendiri tidak mau memastikannya. Disela-sela perasaan itu ada sebuah perasaan
yang menguat. Perasaan untuk memilikinya. Aku menyadari dari survey-survey yang
telah kulakukan. Dia tidak diperbolehkan untuk menjalin hubungan lebih dari
pertemanan oleh orang tuanya. Perasaan yang menguat itupun ternyata bukan
sekedar berpacaran melainkan yang lebih mulia dari itu.
Sepanjang
malam aku berfikir keras tentang semua itu. Aku memilih dan memilah setiap cara
yang terbentuk dipikiranku. Bagaimana untuk menyampaikan betapa besar dan
tulusnya perasaan ini padanya. Disaat aku hampir putus asa dan menyerah ide itu
tiba-tiba saja muncul seperti petir yang menyambar.
***
Aku
baru saja dari toko buku. Sebuah novel karangan seorang penulis yang lagi
terkenal berhasil menggodaku untuk membelinya. Aku sangat ingin membacanya dan
memanjakan imajinasiku. Untuk itu aku kembali ke kampusku. Sesampainya aku
dikampus kulihat kelas tempat kami belajar tadi masih masih belum ada
tanda-tanda dosen yang mengajar. Kulewati pintu kelas itu dan tanpa sengaja
mataku bertatap langsung dengan matanya. Bening matanya dan pupil yang berwarna
coklat itu sangat meneduhkan. Aku terdiam untuk sesaat. Lalu senyuman indahnya
melebar menyapaku. Sungguh kuingin mengabadikan momen itu selamanya. Kubalas
senyumanya dengan senyuman yang terindah yang mampu kuberikan.
Aku
menduduki bangku pojokan yang sunyi lalu mulai membacanya. Sama sekali aku
tidak bisa konsentrasi membacanya. Beberapa kali aku menangkap matanya sedang
memerhatikanku. Secepat aku memandangnya secepat itu juga dia memalingkan
wajahnya. Satu pertanyaan besarku. “Apa dia memiliki perasaan yang lebih
padaku?” Atau “apakah dia juga ingin untuk kumiliki”. Aku harus mengungkapkan
perasaan ini secepatnya sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Kucoba
untuk terus membaca novel yang baru kubeli walau dengan konsentrasi yang
terpecah. Samar-samar kudengar percakapannya dengan teman-temannya. Ternyata teman-temannya
akan pergi dan meninggalkannya sendiri. Benar, tidak berapa lama teman-temannya
meninggalkannya sendiri. Kututup novel yang baru kubeli. Kumasukkan kedalam tas
lalu aku menghampirinya.
“Hai”
sapaku setika sampai di dekatnya.
“Eh
Jul. Ada ap?” dia kelihatan terkejut.
“Ke
pantai yuk” kataku dengan pelan. Aku masih takut perkataanku didengar orang
lain.
“Ha...
Apa jul?” tanyanya. Sepertinya suaraku terlalu pelan.
“Kita
jalan-jalan ke pantai yuk Yun” kataku dengan sedikit keras.
“Ngapain
Jul? Siapa aj?” Dia sedikit terkejut dan menggeser sedikit posisi duduknya
menghadapku.
“Berdua
aj. Ada hal yang mau ku sampekan” Mungkin kalau dia sedikit fokus pada
jantungku dia akan mendengar detakannya.
“emm..”
kelihatannya dia memikirkan sesuatu.
“Kok
tiba-tiba gini Jul” tanyanya. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaanya. Aku
tidak mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti itu. Keningku sedikit
berkerut. Aku berharap dia tak menyadarinya.
“Soalnya
menyangkut hati. Aku mau curhat dikit.” Kata-kata itu terucap begitu saja.
“kapan?”
tanyanya singkat.
Sebenarnya
aku belum merencanakan detail kapan kapan perginya. Namun dengan memikirkannya
hanya sepersekian detik aku mantap menjawab “Besok. Kamu gak ada kuliah kan?”
“Oh
ia, kebetulan aku bebas besok.” jawabnya.
“Ku
jemput di rumah pukul lima sore ya “
“Ia.
Jangan sampai telat ya.”
“Insya
Allah, aku tidak akan telat. Oh ya aku pulang duluan ya. Baru inget kalau ada
urusan yang harus ku selesaikan” sebenarnya urusannya ya tentang hal ini.
“Hm
oke. Hati-hati jul”
“sep”
kataku sambil mengacungkan jempolku. Aku berbalik dan keluar dari kelas itu. Sepertinya
jutaan bunga mawar sedang mekar di hatiku. Aku merasa bahagia akan keindahan
bunganya namun takut akan durinya.
***
Keesokan
harinya dengan kecepatan sedang aku melaju dibawah terik matahari. Perasaan
gugup masih menghantuiku selama perjalanan. Tak lupa ku sempatkan membeli
persiapan akhir untuk kesuksesan rencanaku dan kumasukkan ke tas sandang yang
kubawa memang untuk itu. Pukul lima kurang aku sampai di rumahnya. Aku memesuki
pelataran rumanya masih sama seperti terkhir kali aku dan teman-temanku
berkunjung. Aku langsung menuju pintu depan dan mengetuknya.
Wahyuni
membukakan pintu untukku. Seketika itu aku membeku. Dia begitu manis dengan senyum
mengembang di bibirnya. Baju lengan panjang berwana biru langit dilengkapi
dengan kerudung berwarna sama melekat dibadannya. Ditambah dengan rok hitam dan
sepatu kets berwarna biru melengkapi keanggunanya sore itu. Setelah
mempersilahkanku duduk dia kedalam. Tak lama dia muncul diikuti oleh kedua
orang tuanya. Aku langsung mengenalkan diri dengan bersalaman. Setelah sedikit basa
basi aku ijin membawa anak gadisnya. Ternyata kedua orangtuanya sangat baik
padaku.
Hanya
butuh waktu setengah jam bagi kami untuk sampai di pantai. Aku mencari tempat
duduk yang sedikit menjorok kepantai. Aku dan dia bercerita tentang apa aja. Humor-humor
cerita-cerita semua membuat waktu bergerak terlalu cepat. Pengunjung yang
tadinya ramai kini telah banyak meninggalkan pantai. Langit mulai menggelap.
Semburat jingga memenuhi langit. Sungguh suasanya yang sangat romantis tepat
seperti rencanaku.
Aku
berdiri dari tempat dudukku dan mengambil tas sandangku. Dia yang menyadari tingkahku
juga bersiap-siap untuk pulang. Dalam diam aku berjalan ke arah laut sampa air
laut membasahi kakiku. Dia tampak heran. Segera saja kulambaikan tanganku
mengajaknya kedekatku.
“Yun
coba pejamkan matamu dan rasakan hembusan angin yang datang dari laut. Pasti kamu
akan rasakan ketenangan yang belum pernah lu rasain sebelumnya” kataku setelah
dia sampai di sampingku.
Tanpa
ragu dia menutup matanya yang indah itu. Perlahan, setenang mungkin aku
berjalan kedepannya. Dan aku berlutut tepat dihadapannya. Aku ambil mawar merah
yang telah ku siapkan di dalam tasku.
“Yun”
panggilku.
“Hm”
jawabnya masih memejamkan mata.
“Aku
mencintaimu” ucapku lirih.
Dia
langsung membuka matanya. Tatapannya menembus mataku langsung menuju jantungku.
Seakan aliran darahku berhenti saat itu juga. Dia masih terdiam. Raut keterkejutan
masih membekas disana. Aku yang tidak tau mau berbuat apa hanya ikut terdiam.
Setelah hanya suara ombak yang terdengar.
“Maaf
ya Jul bukannya aku gak mau. Tapi orang tuaku gak mengizinkan ku untuk itu jul.
Maa....” dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Butiran air mata menetes
dari matanya yang bening berjalan tanpa henti melewati pipinya. Aku tau akan
hal itu. Aku tau dari cerita-ceritanya selama aku berteman dengannya. Tapi
bukan itu yang sebenarnya aku inginkan.
“Menikahlah
denganku.” Kataku lirih. Masih dalam posisi berlutut dan tertunduk. Aku masih
belum berani menatapnya.
“Ha…”
dia terkejut dengan apa yang kukatakan. Airmata yang tadi menetes perlahan
berhenti.
“Memang
bukan sekarang. Aku berjanji suatu hari nanti aku pasti akan membawa orang
tuaku untuk melamarmu. Aku hanya ingin meyakinkanmu saat ini. Aku
bersungguh-sungguh dengan kata-kataku.” Sambungku tanpa jeda.
“........”
dia hanya terdiam. Air mata itu masih terlihat mengalir.
Aku
masih bingung kuputuskan untuk bertanya lagi “Bagimana maukah kamu menerimaku?”.
Cukup lama dia terdiam
memandang ke arahku. Sampai dia mengsap air matanya lalu berkata ” Emmm gimana
ya...”.
“maaf jul aku...” sambungnya
setelah memberikan sedikit jeda.
Aku
menundukkan kepalaku mendengar ucapanya.
“Panjul.
Eh.. Fandiiii aku belum selesai ngomong. Masa kamu udah putus asa gitu.
Maksudku aku ga bisa menolaknya.” katanya sambil merebut bunga yang kuberikan.
Aku terbengong melihat
tindakannya. Ternyata dia tidak menolakku. Aku bahagia sekali mendengarnya. Sepertinya
itu adalah kata-kata terindah yang pernah ku dengar.
“Jadi
hubungan kita sekarang apa Fan? Trus aku harus sampai kapan menunggumu?” sambungnya.
O
ia Aku lupa. Akukan belum memikirkan sampai kesitu. Berpikir kalau diterima aja
gak berani. Tapi aku benar-benar bersungguh-sungguh untuk memilikinya
selamanya. Tanpa banyak mikir aku menjawabnya “Kalau hubungan kita ya tetep
temenan. Tapi izinkan aku untuk mengenalmu lebih dekat. Kalau waktunya insya
Allah dua tahun setelah aku selesai kuliah. Bagaimana Yun bisa kan kamu nunggu
aku selama itu?” kataku dengan penuh keyakinan.
“Aku
akan menunggumu selama yang kau inginkan Fandi. Aku juga mencintaimu”
Aku sangat bahagia
mendengarnya. Ingin rasanya aku terbang langsung kelangit saat itu juga. Matahari
telah sampai di singgasananya. Hanya cahaya jingga yang tersisa. Suara angin
terdengar semangkin keras. Aku dan Wahyuni meninggalkan pantai. Hanya aku dan
Tuhan yang tahu sebahagia apa aku saat ini. Dia, Wahyuni adalah pendamping
hidupku kelak. Wanita yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar